Batu Bara ICE Newcastle Tidak Berubah di 139,20 di Hari Kedua Perdagangan Minggu ini

  • Batu Bara ICE Newcastle belum menunjukkan perubahan signifikan hari ini.
  • Kerentanan Selat Hormuz masih berlanjut pasca Proyek Pembebasan Trump.
  • Iran menyerang wilayah UEA pasca dimulainya proyek Trump

Harga batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di 139,20 yang belum berubah sama sekali sejak pembukaan, menyusul komoditas yang tidak bergerak di level yang sama kemarin. Meskipun tidak bergerak, batu bara ini berada di level tertinggi sejak 8 April 2026 dan memantau perkembangan di Timur Tengah sebelum menetapkan arah tegas ke depan.

Meskipun batu bara tidak bergerak sama sekali sepanjang hari kemarin, pembukaan dengah gap atas membuat indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari kembali menanjak setelah sebelumnya datar, memperkuat momentum bullish karena berada di atas level netral 50. Simple Moving Average (SMA) 200-hari yang berada di hawah harga juga masih mengindikasikan tren jangka lebih panjang komoditas ini tetap naik.

Cuaca Pelabuhan Newcastle Australia berawan dengan suhu di 17°C pada saat berita ini ditulis. Dengan peluang hujan yang rendah, proses pemuatan baru bara di pelabuhan diprakirakan berjalan lancar sehingga pengiriman batu bara dapat sesuai jadwal. Keadaan tersebut akan membuat cuaca diabaikan dari faktor yang dapat memengaruhi harga batu bara dalam jangka pendek.

Keriuhan di Selat Hormuz belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menginisiasi Proyek Pembebasan yang memiliki tujuan mengawal kapal-kapal yang terdampar di Teluk Persia untuk melewati Selat Homuz pada akhir pekan.

Sentimen positif dari aksi tersebut tidak berlangsung lama karena Iran melakukan serangan terhadap wilayah Uni Emirat Arab (UEA) menggunakan drone dan rudal, seperti diinformasikan oleh CNBC sementara AS mengklaim telah menghancurkan kapal-kapal Iran di Selat Hormuz. Keberlangsungan ketidakpastian atas jalur bebas Selat Hormuz membuat harga-harga komoditas, terutama komoditas energi tetap tinggi, di mana minyak West Texas Intermediate (WT) tetap bertahan di atas $101 per barrel pada saat berita ini ditulis.

Di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama Mei 2026 dalam Kepmen ESDM No. 179.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;

  • Batubara (6.322 GAR) $106,57 naik dari $103,43
  • Batubara I (5.300 GAR) $79,56 naik dari $77,71
  • Batubara II (4.100 GAR) $55,66 naik dari $52,84
  • Batubara III (3.400 GAR) $38,76 naik dari $38,30

"Sampai 31 Desember, sekalipun harga ICP 100 dolar AS, inysaallah harga BBM dan LPG bersubsidi tidak akan naik", kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Bahlil Lahadalia, di acara Business Forum Himpunan Alumni IPB University pada akhir pekan lalu, seperti diinformasikan dalam situs Kementerian ESDM.

Dalam acara tersebut, Menteri Bahlil mengklaim JP Morgan menempatkan negara Indonesia di posisi kedua sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik di dunia di tengah gejolak geopolitik karena berbagai tata kelola energi nasional.

Meskipun beliau mengakui bahwa kondisi energi nasional saat ini masih jauh dari ideal. Namun, beberapa upaya telah dilakukan seperti diversifikasi sumber pasokan minyak mentah dari awalnya banyak bergantung dari Timur Tengah, kini disebar dari Afrika, Amerika, hingga Rusia.

Pengembangan Dimethyl Ether (DME) berbasis batu bara kalori rendah serta Compressed Natural Gas (CNG) dan pencampuran etanol pada bensin dapat mengurangi impor gas serta bensin secara nasional ke depan.

Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Batu Bara ICE Newcastle
Grafik harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.

Minyak WTI Pullback Saat Kekhawatiran Pasokan Hormuz Mereda, Ketegangan Iran-AS Membuat Volatilitas Tetap Tinggi

West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan sekitar $101,10 pada hari Selasa, turun 1,26% pada saat berita ini ditulis, setelah mencatat kenaikan kuat pada hari sebelumnya di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah
了解更多 Previous

Minyak: Ketegangan Timur Tengah Menjaga Brent Tetap Tinggi – Danske Bank

Tim Riset Danske menekankan bahwa meningkatnya ketegangan AS–Iran di Selat Hormuz mempertahankan volatilitas di pasar Minyak. Minyak mentah Brent diperdagangkan di atas 110 USD/barel, mencerminkan kekhawatiran pasokan yang terus berlanjut
了解更多 Next