USD/IDR: Rupiah Lanjutkan Penguatan ke Rp17.630 setelah Waller Tekan Dolar, Fokus Beralih ke NFP AS

  • Kurs Rupiah menguat ke Rp17.630 per Dolar AS, dari Rp17.650 pada Kamis, sementara JISDOR naik ke Rp17.636 dari Rp17.689.
  • Dolar AS tertekan setelah Waller membuka peluang mempertahankan suku bunga The Fed pada September, meski data jasa AS menunjukkan aktivitas dan tekanan harga masih kuat.
  • Harga minyak Brent yang bertahan di sekitar US$95 tetap menjadi risiko bagi Rupiah, sementara perhatian pasar beralih ke laporan Nonfarm Payrolls AS malam ini.

Rupiah Indonesia (IDR) melanjutkan penguatan terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Jumat, dengan pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp17.630, turun 20 poin dari Rp17.650 pada Kamis. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) menguat lebih besar ke Rp17.636 dari Rp17.689. Rupiah mendapat dukungan dari pelemahan Dolar setelah komentar Gubernur Federal Reserve Christopher Waller dan pernyataan Gubernur BI Destry Damayanti bahwa cadangan devisa akhir Agustus meningkat dari bulan sebelumnya. Namun, harga minyak yang masih tinggi tetap menjadi risiko, sementara perhatian pasar beralih ke laporan ketenagakerjaan AS malam ini.

Waller Membuka Peluang The Fed Menahan Suku Bunga

Waller mengatakan The Fed dapat mempertahankan suku bunga pada pertemuan September apabila data inflasi Agustus menunjukkan tekanan harga terus mereda. Namun, ia tetap membuka peluang pengetatan jika inflasi kembali meningkat.

“Jika data inflasi Agustus datang panas, saya akan mempertimbangkan kenaikan suku bunga pada September,” kata Waller dalam acara Reuters NEXT Newsmaker di Washington pada Kamis. Ia menilai data terbaru mulai menunjukkan tanda-tanda disinflasi, tetapi menegaskan inflasi masih berada di atas target The Fed sebesar 2%.

Komentar tersebut menekan Dolar AS ke level di sekitar 99, meski data ekonomi semalam tidak sepenuhnya mendukung pandangan yang lebih dovish. PMI Jasa ISM naik menjadi 55,4 dari 54,1 dan melampaui konsensus 54,3, sementara indeks pesanan baru melonjak ke 60,9 dari 57,2. Pada saat yang sama, indeks harga yang dibayar meningkat ke 72,6 dari 70,3, menunjukkan tekanan harga di sektor jasa masih tinggi. Klaim pengangguran awal naik tipis menjadi 206 ribu dari 204 ribu.

Cadangan Devisa Menjadi Dukungan Domestik

Dari dalam negeri, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026 pada Kamis, 3 September, bahwa Cadangan Devisa Indonesia mencapai sekitar US$146 miliar pada akhir Agustus, naik dari US$145,3 miliar pada Juli. Pernyataan tersebut disampaikan menjelang rilis resmi data Cadangan Devisa Agustus oleh BI yang dijadwalkan pada 7 September.

Namun, MUFG menilai tekanan terhadap Rupiah belum sepenuhnya berakhir. Lloyd Chan dari MUFG mengatakan USD/IDR telah terkoreksi hampir 500 poin dari puncaknya setelah posisi beli Dolar mulai berkurang dan sebagian arus masuk asing kembali. “Laju depresiasi Rupiah mungkin akan melambat, tetapi tren depresiasi yang lebih luas kemungkinan belum berakhir,” ujarnya. MUFG mempertahankan prakiraan USD/IDR di 18.350 pada akhir 2026.

Minyak Tetap Menjadi Risiko, Pasar Menunggu NFP

Harga minyak tetap menjadi salah satu hambatan bagi Rupiah, meski Brent turun 0,46% ke sekitar US$95,08 per barel dan WTI melemah 0,67% ke US$90,69 pada Jumat sore di sesi Eropa. MUFG memprakirakan neraca perdagangan komoditas Indonesia mulai terdampak negatif ketika Brent berada di atas US$82 per barel, sehingga level minyak yang masih tinggi tetap berpotensi membebani posisi eksternal Indonesia.

Perhatian pasar selanjutnya beralih ke Nonfarm Payrolls (NFP) AS malam ini, yang diprakirakan bertambah 56 ribu pada Agustus setelah turun 23 ribu pada Juli. Tingkat pengangguran diproyeksikan bertahan di 4,1%, sementara pertumbuhan upah diprakirakan sebesar 0,3% secara bulanan dan melambat menjadi 3,0% secara tahunan. Data tenaga kerja tersebut akan menjadi petunjuk berikutnya bagi prospek suku bunga The Fed menjelang pertemuan September.

Indikator Ekonomi

Nonfarm Payroll (NFP)

Rilis Nonfarm Payrolls menyajikan jumlah pekerjaan baru yang diciptakan di AS selama bulan sebelumnya di semua bisnis non pertanian; dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS). Perubahan bulanan dalam payrolls bisa sangat fluktuatif. Angka tersebut juga tunduk pada tinjauan yang kuat, yang juga dapat memicu volatilitas di bursa Forex. Secara umum, pembacaan yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dipandang sebagai bearish, meskipun tinjauan bulan sebelumnya dan Tingkat Pengangguran sama relevannya dengan angka utama. Oleh karena itu, reaksi pasar bergantung pada bagaimana pasar menilai semua data yang terkandung dalam laporan BLS secara keseluruhan.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Jum Sep 04, 2026 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 56Rb

Sebelumnya: -23Rb

Sumber: US Bureau of Labor Statistics

Laporan lapangan pekerjaan bulanan Amerika dianggap sebagai indikator ekonomi paling penting bagi pedagang valas. Dirilis pada hari Jumat pertama setelah bulan yang dilaporkan, perubahan jumlah posisi berkorelasi erat dengan kinerja ekonomi secara keseluruhan dan dipantau oleh pembuat kebijakan. Pekerjaan penuh adalah salah satu mandat Federal Reserve dan mempertimbangkan perkembangan di pasar tenaga kerja saat menetapkan kebijakannya, sehingga berdampak pada mata uang. Meskipun beberapa indikator utama membentuk perkiraan, Nonfarm Payrolls cenderung mengejutkan pasar dan memicu volatilitas yang substansial. Angka aktual yang mengalahkan konsensus cenderung membuat USD bullish.

Prakiraan Harga GBP/USD: Pembeli Berubah Menjadi Berhati-hati karena 1,3550 Membatasi Kenaikan Menjelang NFP AS

Pasangan mata uang GBP/USD menarik beberapa pembeli untuk hari kedua berturut-turut, meskipun kurang memiliki tindak lanjut dan tetap dibatasi di dekat pertengahan 1,3500-an sepanjang awal sesi Eropa pada hari Jumat.
Baca lagi Previous

Euro: Pemulihan Bertahap dari Aksi Jual Warsh terhadap Dolar AS – ING

Chris Turner dari ING menulis bahwa EUR/USD bergerak naik perlahan saat pasar membalikkan aksi jual sebelumnya yang dipicu oleh pidato Kevin Warsh, dengan pasangan mata uang ini kembali bergerak menuju 1,1650. Latar belakang Dolar yang lebih lemah terhadap EMFX dan mata uang G10 yang pro-pertumbuhan mendukung Euro.
Baca lagi Next