USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp17.585, tetapi Masih Menguat 0,26% Pekan Ini jelang IHK AS
- Kurs Rupiah ditutup di Rp17.585 per Dolar AS, melemah 0,31% pada Jumat tetapi masih menguat sekitar 0,26% secara mingguan; JISDOR naik ke Rp17.611.
- Brent bertahan di US$105,88 dan imbal hasil Treasury AS 10-tahun mendekati 5%, sementara CME FedWatch menunjukkan peluang 67,4% kenaikan suku bunga The Fed pada September.
- Indikator domestik membaik, dengan Penjualan Ritel Juli tumbuh 1,1%, IKK naik ke 118,5, cadangan devisa mencapai US$146,5 miliar, dan kewajiban neto PII turun menjadi US$197,4 miliar.
Pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp17.585 pada perdagangan Jumat di pasar domestik, mencerminkan pelemahan Rupiah Indonesia (IDR) sebesar 55 poin atau sekitar 0,31% dari Rp17.530 pada Kamis. Meski melemah pada sesi terakhir pekan ini, mata uang Garuda masih menguat sekitar 0,26% secara mingguan dari Rp17.630 pada Jumat sebelumnya. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) naik ke Rp17.611 dari Rp17.536. Tekanan pada akhir pekan datang dari harga minyak yang bertahan di atas US$100 per barel dan imbal hasil Treasury AS 10-tahun yang mendekati 5%, setelah data inflasi produsen AS mempertahankan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada September. Sementara itu, perbaikan sejumlah indikator Indonesia yang dirilis pekan ini belum cukup mengimbangi tekanan eksternal tersebut.
Minyak dan Imbal Hasil AS Memperberat Tekanan
Harga minyak terkoreksi pada perdagangan Jumat setelah reli tajam sebelumnya. Brent turun 1,63% ke US$105,88 per barel, sedangkan WTI melemah 1,46% ke US$100,98. Meski menjauh dari level tertinggi sebelumnya yang mendekati US$110, kedua acuan minyak masih bertahan di atas US$100 per barel. Level tersebut tetap menjadi perhatian bagi Rupiah karena dapat meningkatkan risiko inflasi, memperbesar kebutuhan subsidi energi, dan menambah tekanan terhadap posisi eksternal Indonesia.
Tekanan juga datang dari pasar obligasi AS, dengan imbal hasil Treasury 10-tahun mendekati 5% meski Departemen Keuangan AS telah membeli kembali sekitar US$5,2 miliar obligasi tenor 10–20 tahun dari kapasitas maksimum US$6 miliar. Buyback tersebut belum mampu meredakan tekanan, karena nilainya relatif kecil dibanding pasar Treasury sekitar US$32 triliun, sementara kekhawatiran terhadap inflasi dan prospek suku bunga The Fed tetap dominan. Menurut CME FedWatch Tool, pasar kini memperhitungkan peluang 67,4% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 16 September.
Data AS menunjukkan Indeks Harga Produsen (IHP atau PPI) Agustus naik 0,4% secara bulanan, sementara secara tahunan meningkat menjadi 5,4% dari 4,8% pada Juli. Harga energi produsen melonjak 4,2%, sedangkan Klaim Tunjangan Pengangguran awal turun menjadi 206.000. Perhatian pasar selanjutnya beralih ke Indeks Harga Konsumen (IHK atau CPI) AS Jumat malam, yang diprakirakan naik 0,4% secara bulanan dan 3,4% tahunan. IHK inti diproyeksikan meningkat 0,2% secara bulanan dan 2,4% tahunan.
Penjualan Ritel Indonesia Membaik
Dari dalam negeri, sejumlah indikator menunjukkan perbaikan. Indeks Penjualan Riil Juli tumbuh 1,1% secara tahunan, berbalik dari kontraksi 3,0% pada Juni, sementara BI memprakirakan penjualan eceran Agustus tetap tumbuh 0,5%. IKK Agustus juga naik menjadi 118,5 dari 116,8, menunjukkan konsumsi rumah tangga tetap terjaga.
Posisi eksternal Indonesia juga menguat. Kewajiban neto Posisi Investasi Internasional kuartal II turun menjadi US$197,4 miliar dari US$223,0 miliar, dengan rasio terhadap PDB menyusut menjadi 13,3% dari 15,2%. Sementara itu, Cadangan Devisa Agustus naik menjadi US$146,5 miliar dari US$145,3 miliar, setara dengan 5,4 bulan impor, meski BI melakukan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar Rupiah. Namun, faktor domestik tersebut belum mampu mengimbangi tekanan eksternal dari harga minyak yang tetap tinggi dan kenaikan imbal hasil Treasury AS.
USD/IDR Memantul dari Sekitar Support Rp17.500
Dari grafik harian, pasangan mata uang USD/IDR berdasarkan data ICE bergerak di sekitar Rp17.595 dan kembali mendekati resistance horizontal Rp17.600 setelah memantul dari area Rp17.500. Namun, pasangan mata uang ini masih berada di bawah area tengah Bollinger Band dan Moving Average 100 periode di sekitar Rp17.685–Rp17.700, sehingga rebound belum cukup untuk mengubah tekanan turun yang terbentuk sejak Agustus. Jika Rp17.700 ditembus, resistance selanjutnya berada di sekitar Rp17.770–17.800 (wilayah yang membatasi pergerakan akhir Agustus hingga awal September), sebelum batas atas Bollinger Band di kisaran Rp17.883.
Pada sisi bawah, batas bawah Bollinger Band berada di sekitar Rp17.514, berdekatan dengan support horizontal Rp17.500. Penembusan di bawah area tersebut dapat membuka jalan menuju support berikutnya berada di terendah 12 Mei di sekitar Rp17.410. Relative Strength Index (RSI) berada di 38,55, masih di bawah level netral 50 tetapi mulai bergerak naik dari area rendah, menunjukkan momentum bearish mulai berkurang meskipun sinyal pembalikan ke atas belum kuat.

Indikator Ekonomi
Indeks Harga Konsumen (Thn/Thn)
Kecenderungan inflasi atau deflasi diukur dengan menjumlahkan harga sekeranjang barang dan jasa secara berkala dan menyajikan datanya sebagai Indeks Harga Konsumen (IHK). Data IHK dikumpulkan setiap bulan dan dirilis oleh Departemen Statistik Tenaga Kerja AS. Laporan bulanan ini membandingkan harga barang-barang pada bulan referensi dengan bulan sebelumnya. IHK Tidak termasuk Makanan & Energi tidak menyertakan komponen makanan dan energi yang lebih fluktuatif untuk memberikan pengukuran tekanan harga yang lebih akurat. Secara umum, angka yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sedangkan angka yang rendah dianggap sebagai bearish.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Jum Sep 11, 2026 12.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 3.4%
Sebelumnya: 3.4%
Sumber: US Bureau of Labor Statistics
Federal Reserve AS (The Fed) memiliki mandat ganda untuk menjaga stabilitas harga dan lapangan kerja maksimum. Menurut mandat tersebut, inflasi seharusnya berada di sekitar 2% YoY dan telah menjadi pilar terlemah dari arahan bank sentral sejak dunia mengalami pandemi, yang berlanjut hingga saat ini. Tekanan harga terus meningkat di tengah masalah rantai pasokan dan kemacetan, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) bertahan di level tertinggi multi-dekade. The Fed telah mengambil langkah-langkah untuk mengekang inflasi dan diprakirakan akan mempertahankan sikap agresif di masa mendatang.