USD/IDR: Rupiah Menguat 0,50% ke Rp17.870, Pasar Tunggu PCE AS
- Kurs Rupiah ditutup menguat 0,50% ke Rp17.870 per Dolar AS pada Rabu, menjauh dari level Rp18.000 yang sempat ditembus sehari sebelumnya.
- Tekanan dari minyak dan imbal hasil Treasury AS mereda, tetapi DXY masih bertahan di atas 101 sehingga kekuatan Dolar AS belum sepenuhnya surut.
- Pasar menantikan ADP, PCE dan PDB AS malam ini, sebelum data perdagangan, inflasi, dan PMI manufaktur Indonesia dirilis Kamis.
Rupiah Indonesia (IDR) membukukan pemulihan pada perdagangan Rabu, 30 September 2026. Pasangan mata uang USD/IDR ditutup turun 90 poin atau sekitar 0,50% ke Rp17.870, dari Rp17.960 pada Selasa, setelah sehari sebelumnya sempat menembus level psikologis Rp18.000. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia juga turun ke Rp17.877 dari Rp17.998.
Tekanan eksternal yang membebani Rupiah sehari sebelumnya mulai berkurang, meski Dolar AS masih relatif kuat. Indeks Dolar AS (DXY) berada di sekitar 101,24, turun dari puncak Selasa di 101,61 tetapi tetap bertahan di atas level 101. Imbal hasil Treasury AS 10-tahun juga turun tipis ke 5,219%, dari level tertinggi Selasa di sekitar 5,293%. Di pasar energi, data Bloomberg sekitar pukul 15.16 WIB menunjukkan WTI naik tipis 0,08% ke US$89,45 per barel, sementara Brent turun 0,10% ke US$102,49 per barel. Dengan demikian, dua tekanan yang sebelumnya cukup kuat—minyak dan imbal hasil AS—mulai mereda, meski DXY yang masih tinggi tetap membatasi ruang penguatan Rupiah.
Sentimen Asia juga mendapat sedikit dukungan dari data Tiongkok, setelah PMI manufaktur resmi kembali ke zona ekspansi di 50,1 pada September, sementara survei swasta menunjukkan aktivitas pabrik menguat ke level tertinggi dalam lima bulan. Perbaikan tersebut meredakan sebagian kekhawatiran terhadap prospek ekonomi mitra dagang utama Indonesia, meski pengaruhnya terhadap Rupiah terlihat terbatas.
Data AS Mulai Meredakan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga
Data ekonomi AS pada Selasa turut mengurangi tekanan. Lowongan pekerjaan JOLTS turun menjadi 7,079 juta pada Agustus, dari 7,335 juta pada Juli dan di bawah prakiraan 7,23 juta. Indeks kepercayaan konsumen Conference Board juga merosot ke 81,9 pada September dari 88,6, level terendah sejak April 2014. Pada saat yang sama, Presiden The Fed New York John Williams mengatakan tidak ada urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga, mendorong ekspektasi kenaikan pada pertemuan Oktober turun ke sekitar 50% dari hampir 70% sebelumnya.
Perhatian kini beralih ke rangkaian data AS pada Rabu malam. Perubahan Ketenagakerjaan ADP September dijadwalkan pukul 19.15 WIB, dengan pasar memprakirakan penambahan sekitar 70.000 pekerjaan setelah 38.000 pada Agustus. Pada 19.30 WIB, AS akan merilis estimasi ketiga PDB kuartal kedua serta indeks harga PCE Agustus. PCE Inti diprakirakan naik 0,3% MoM, sementara secara tahunan tetap di 3,3%.
BI Tetap Hadir, Pasar Menunggu Data Indonesia
Dari dalam negeri, BI menegaskan stabilisasi Rupiah tetap dilakukan melalui kombinasi spot, DNDF domestik, dan NDF offshore. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan kebutuhan valas yang mendesak tetap direspons melalui pasar spot, sedangkan kebutuhan yang dapat ditunda diarahkan ke instrumen DNDF. BI juga telah memperbesar insentif lindung nilai dan meningkatkan pembelian SBN di pasar sekunder selama September untuk menjaga kecukupan likuiditas. Keputusan suku bunga berikutnya, menurut BI, tetap bersifat data dependent. Liputan6.com Pemerintah sementara itu mengatakan akan mendorong ekspor untuk meningkatkan pasokan devisa dan tetap mempertahankan asumsi kurs Rp17.500 per Dolar AS dalam APBN 2027.
Rangkaian data domestik pada Kamis menjadi fokus berikutnya. Survei Reuters memprakirakan surplus perdagangan Agustus melebar menjadi sekitar US$630 juta dari US$130 juta pada Juli, dengan ekspor diprakirakan tumbuh 4,30% YoY dan impor 31,14%. Inflasi September diproyeksikan naik menjadi 3,30% YoY dari 3,19%, sedangkan inflasi inti diprakirakan sekitar 2,91% dari 2,92%. Selain itu, PMI manufaktur Indonesia September akan dirilis setelah indeks turun ke 49,8 pada Agustus, kembali berada di bawah batas 50 yang memisahkan ekspansi dan kontraksi.
USD/IDR Tembus Batas Bawah Ascending Channel, Support 17.774 Jadi Fokus

Pada grafik harian ICE, USD/IDR turun ke sekitar 17.860 dan menembus area 17.878 serta sisi bawah ascending channel jangka pendek. Jika penurunan berlanjut, support berikutnya terlihat di 17.774 (bekas resistance pada awal September), kemudian area 17.741–17.717 yang berdekatan dengan MA 100 Periode. Support lebih bawah berada di sekitar 17.685 (terendah 28 Agustus).
Di sisi atas, 17.878 kini menjadi resistance terdekat, sebelum 17.934 (resistance horizontal), kemudian level psikologis sekaligus puncak 29 September di 18.000. Pergerakan di atas area tersebut dapat membawa USD/IDR kembali menuju batas atas Bollinger Band di sekitar 18.018, disusul resistance 18.090 (tertinggi 28 dan 30 Juli). Relative Strength Index (RSI) berada di 54,55, masih sedikit di atas level netral 50, menunjukkan momentum kenaikan USD/IDR mulai mereda tanpa sepenuhnya berbalik bearish.